|
Switch to English |
|
Seri factsheet tentang Lembaga-lembaga Keuangan Internasional ini mencakup informasi tentang Kelompok Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia
|
Laporan yang ditulis oleh mantan Menteri Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim menyatakan Kelompok Bank Dunia telah gagal mendorong industri ekstraktif untuk berkontribusi terhadap upaya-upaya pengurangan kemiskinan. Selama ini Bank Dunia selalu membenarkan keterlibatannya dalam sektor industri ekstraktif dengan keyakinan bahwa industri pertambangan dan migas dapat memberikan kontribusi positif bagi pengentasan kemiskinan di negara-negara anggotanya. Kelompok Bank Dunia telah mengabaikan kenyataan bahwa industri ekstraktif ini justru menjadi penyebab pemiskinan, penyulut terjadinya perang sipil, memarjinalkan masyarakat adat dan lokal, serta merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Oleh karena itu, didalam laporan tersebut, Kaji Ulang Industri Ekstraktif menawarkan sejumlah rekomendasi untuk melakukan berbagai perubahan kebijakan, institusi dan kegiatan untuk menjamin pembangunan industri ekstraktif yang pro-kelompok miskin dan selaras dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Laporan ini juga menjelaskan sejumlah ukuran, batasan dan definisi dari industri ekstraktif yang lebih pro-kelompok miskin tersebut. Rekomendasi itu sendiri melingkupi berbagai isu yang saling terkait: ketatapemerintahan, HAM, Kebijakan dan Lingkungan.
Ketatapemerintahan (Governance)
Ketatapemerintahan yang baik adalah prasyarat institusi yang harus dipersiapkan supaya negara-negara dimana industri ekstraktif itu berada siap menghadapi berbagai resiko yang terjadi akibat keberadaan industri-industri tersebut. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk menjamin ketatatapemerintahan yang baik adalah adanya institusi-institusi yang transparan dan menjamin partisipasi masyarakat sipil. Dalam salah satu rekomendasi disebutkan antara lain transparan dalam hal penerimaan perusahaan (keuntungan) dan mekanisme yang menjamin persetujuan tanpa paksaan (free prior informed consent) dari masyarakat adat/lokal yang terkena dampak dari industri ekstraktif. Seluruh negara harus memenuhi kriteria ketatapemerintahan ini sebelum investasi industri ekstraktif disetujui.
Kebijakan yang pro-kelompok miskin (Pro-poor Policy)
Bank Dunia harus menjamin negara-negara dimana industri ekstraktif itu berada supaya mampu melakukan sejumlah penilaian yang komprehensif terhadap dampak dari industri ekstraktif termasuk kemampuan menilai sendiri keuntungan dan kerugian dari sektor industri gas, minyak dan tambang. Ukuran penilaian yang digunakan adalah:
Keberadaan industri ekstraktif harus berbasis pada penghargaan terhadap hak asasi manusia.
|
FPIC menjamin supaya kelompok-kelompok yang diperkirakan terkena dampak mengetahui dan memahami sebanyak mungkin informasi dan implikasi dari keberadaan proyek itu sebelum proyek tersebut dimulai. Informasi ini dapat digunakan untuk menolak, menerima dan menegosiasikan persyaratan penting untuk dipenuhi industri/proyek tertentu. Prinsip FPIC adalah:
|
Laporan ini menimbulkan sejumlah reaksi baik yang mendukung maupun tidak.
Dukungan: Dukungan-dukungan dalam bentuk pernyataan bermunculan dari berbagai institusi terhadap laporan tersebut dan menuntut Presiden Bank Dunia untuk sesegera mungkin mengimplementasikan seluruh rekomendasi yang tertulis dalam laporan tersebut. Dukungan tersebut diantaranya:
Kelompok Ornop Indonesia sendiri tidak banyak memberikan sikap dan tanggapan secara tertulis terhadap laporan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Kaji Ulang Industri Ekstraktif. Walaupun demikian, sebagian besar menolak terlibat didalam Kaji Ulang tersebut dari awal karena menurut mereka TOR dan cara kerja Kaji Ulang Industri Ekstraktif yang cacat.
Menolak: Disisi lain sejumlah 20 Bank besar termasuk Barclays dalam suratnya kepada Presiden Bank Dunia menyatakan tidak menyetujui seluruh aspek rekomendasi dalam laporan Kaji Ulang Industri Ekstraktif tersebut. Ke-20 Bank ini tidak menyetujui semua aspek EIR dan terutama menolak penghapusan segera dukungan untuk industri tambang dan industri minyak sebelum 2008. Menurutnya Bank Dunia harus tetap mendukung pembiayaan industri-industri ekstraktif tersebut. Surat dari kelompok itu yang menamakan dirinya “Bank-bank Equator” ini juga mendapat tanggapan balik dari kelompok lingkungan hidup. LSM-LSM internasional itu mempertanyakan komitmen “Bank-bank Equator” terhadap prinsip-prinsip Equator.
Dr. Emil Salim selaku Eminent Person dari Kaji Ulang Industri Ekstraktif telah melakukan berbagai upaya untuk memperoleh dukungan terhadap rekomendasi yang dikeluarkan.
Setelah pengiriman Laporan Final EIR ke Presiden Bank Dunia pada 15 Januari 2004, Dr. Salim dan tim EIR bertemu dengan James Wolfensohn di Washington DC dari 26-30 Januari 2004. Manajemen Bank Dunia menjanjikan untuk memberikan komentar terbuka setelah 25 Februari 2004.
Atas undangan berbagai pemerintah negara Eropa dan kelompok ornop Eropa untuk membicarakan mengenai laporan tersebut, Dr.Salim mengadakan kunjungan selama 2 minggu ke berbagai negara Eropa dimulai di Roma, 26 Februari dan berakhir di Oslo.
Selang beberapa minggu, Dr.Salim menghadiri Konferensi Internasional UNDP mengenai “Millenium Development Goals” di Beijing, China dari 24-28 Maret 2004. Pada pertemuan tersebut Dr.Salim membicarakan sejumlah isu yang terkait dengan rekomendasi EIR. Dr. Salim kemudian melanjutkan perjalanannya ke Australia untuk menjadi pembicara pada konferensi nasional “Sustainable Energy 2004” di Sydney. Presiden Bank Dunia sendiri tidak menepati janjinya pada pertemuan di Januari 2004 dengan menunda respon terhadap laporan tersebut dan menjanjikan pertemuan dengan Dr.Salim di April 2004.
Dr. Salim kemudian menyetujui undangan pertemuan dengan Wolfensohn dan pertemuan tersebut diadakan pada 19 April 2004. Pernyataan Bersama antara Presiden Bank Dunia, James Wolfensohn dan Emil Salim yang dikeluarkan 19 April 2004 menyetujui pentingnya rekomendasi itu diimplementasikan tetapi Presiden Bank Dunia meminta waktu untuk mendiskusikan rekomendasi tersebut secara internal. Keduanya sepakat untuk bertemu kembali di Bulan Juni.
Dr. Salim diundang pula untuk mempresentasikan laporan EIR di Second World Renewable Energy Forum dari 29-31 May, 2004 di Bonn, Jerman. Ketua Umum Dewan Dunia untuk Energi Terbarukan atau World Council for Renewable Energy (WCRE), Dr. Hemann Scheer, telah menulis laporan mengenai "Renewable Energy for Poverty Alleviation" untuk mendukung rekomendasi EIR bagi energi-energi terbarukan. Selengkapnya laporan tersebut dapat diakses di http://www.wcre.org/.
Manajemen Bank Dunia telah menolak rekomendasi yang tercantum dalam laporan Kaji Ulang Industri Ekstraktif untuk menghentikan segera industri batubara dan minyak sebelum 2008. Hal ini jelas tercantum dalam laporan kelompok Bank pada 17 Juni yang menyatakan masih pentingnya industri minyak, gas dan batubara bagi negara-negara berkembang untuk mencapai sasaran pembangunan milenium. Dengan demikian, Bank Dunia tetap melanjutkan investasi di industri ekstraktif, walaupun harus dilakukan dengan lebih selektif dan lebih berfokus pada kebutuhan orang miskin, ketatapemerintahan yang baik dan menjamin pembangunan sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Rekomendasi lainnya adalah setiap keputusan ditunda sampai IFC selesai meninjau ulang kebijakan pengamanan lingkungan dan sosial (social and enivorment safeguard policies) dan standar-standar polusi. Kaji Ulang ini sedang dalam proses awal yang baru dimulai akhir tahun ini. Bank juga menyatakan bahwa mereka akan meninjau ulang Industri ekstraktif dan implementasinya setelah 2 tahun.
Ada periode 30 hari untuk mengomentari rekomendasi Bank Dunia tersebut yang terbuka untuk seluruh pihak. Kelompok Bank Dunia diperkirakan akan menyetujui rekomendasi final sebelum Agustus 2004.
Referensi:
Website EIR, www.eireview.org
www.bicusa.org
http://brettonwoodsproject.org
http://www.wcre.org/
http://www.pelangi.or.id
Update dan Factsheet tentang LKI tersedia dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Anda dapat memperolehnya melalui email (versi rtf) secara cuma-cuma. Edisi cetak tersedia sebagai suplemen newsletter DTE. Newsletter dapat Anda peroleh dengan cara berlangganan atau saling tukar dengan publikasi organisasi Anda.
Bila Anda ingin menerima Update bulanan dan Factsheet via email, silakan kirim alamat email Anda ke dte@gn.apc.org. Cantumkanlah bahasa yang Anda kehendaki. Anda juga bisa memilih kedua bahasa.